Fenomena piring terbang atau Unidentified Flying Objects (UFO) telah menjadi bagian dari peradaban modern sejak pertengahan abad ke-20. Mulai dari laporan penglihatan oleh pilot tempur selama Perang Dunia II hingga pengungkapan dokumen Pentagon tentang keberadaan Unidentified Aerial Phenomena (UAP) pada tahun 2020-an, perdebatan mengenai UFO tidak pernah surut. Namun, jauh sebelum laporan-laporan resmi dan teknologi radar modern mengangkat isu ini ke permukaan, gagasan tentang kunjungan makhluk luar angkasa telah membentuk imajinasi umat manusia selama ribuan tahun. Salah satu tokoh paling kontroversial yang membangkitkan kembali narasi ini dalam bentuk modern adalah Erich von Däniken, penulis buku Chariots of the Gods? (1968), yang menyodorkan gagasan bahwa alien pernah berinteraksi dengan manusia purba dan membentuk dasar berbagai mitos dan kemajuan teknologi masa lalu.
I. UFO dan Evolusi Imajinasi Teknologis
Konsep piring terbang sebagai kendaraan luar angkasa memasuki kesadaran publik secara luas pada tahun 1947, ketika pilot Kenneth Arnold melaporkan melihat sembilan objek aneh melintas di langit Washington. Ia menggambarkan gerakannya “seperti piring yang memantul di air”, dan sejak saat itu media menciptakan istilah “flying saucers” atau piring terbang. Tak lama kemudian, militer Amerika Serikat menjadi pusat perhatian setelah insiden Roswell yang terkenal. Meski otoritas menyatakan bahwa objek yang jatuh adalah balon cuaca, publik meyakini bahwa itu adalah kapal luar angkasa yang sengaja ditutup-tutupi oleh pemerintah.
Kepopuleran fenomena ini mencerminkan kecemasan dan harapan masyarakat terhadap teknologi dan peradaban luar bumi. Di tengah Perang Dingin, dengan ancaman nuklir dan persaingan antariksa, wacana tentang makhluk asing—baik sebagai ancaman maupun penyelamat—mengakar kuat dalam budaya populer, dari film, novel hingga penelitian semi-serius. Dalam kerangka ini, gagasan-gagasan von Däniken menemukan tanah subur.
II. Chariots of the Gods? dan Hipotesis Astronot Kuno
Buku Chariots of the Gods? karya Erich von Däniken meledak di pasaran pada tahun 1968, diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menjadi salah satu buku terlaris sepanjang masa dalam kategori pseudo-arkeologi. Inti dari argumen von Däniken adalah hipotesis bahwa banyak pencapaian besar peradaban kuno—seperti Piramida Giza, Patung Moai di Pulau Paskah, dan bahkan Kitab Yehezkiel dalam Alkitab—adalah hasil campur tangan makhluk luar angkasa yang dipuja sebagai dewa oleh manusia masa lalu.
Von Däniken mengemukakan bahwa teks kuno, mitos, dan artefak tertentu hanya bisa dijelaskan melalui pengetahuan teknologi tinggi yang mustahil dimiliki oleh manusia zaman itu. Misalnya, ia menafsirkan kendaraan berapi dalam penglihatan Nabi Yehezkiel sebagai pesawat luar angkasa, dan menyebut struktur raksasa di Baalbek, Lebanon, sebagai landasan pendaratan alien. Bagi von Däniken, para dewa dalam mitologi bukanlah entitas ilahi, melainkan pengunjung dari luar bumi yang disalahpahami oleh manusia primitif.
Meski teori ini sangat spekulatif dan banyak ditolak oleh komunitas ilmiah, buku ini mempengaruhi gelombang pemikiran populer, termasuk serial dokumenter seperti Ancient Aliens, dan memperluas ruang dialog antara arkeologi, mitologi, dan spekulasi kosmologis.
III. Kritik Ilmiah dan Tantangan Epistemologis
Hipotesis von Däniken mendapat kritik tajam dari kalangan arkeolog, antropolog, dan ilmuwan sejarah. Mereka menilai argumen-argumennya cenderung bersifat selektif, bias budaya, dan mengabaikan metode ilmiah. Salah satu kritik utama adalah bahwa teori ini mengandung unsur racism of low expectations—yakni meragukan kemampuan peradaban non-Barat untuk membangun monumen dan sistem astronomi canggih, dan justru mengatributkannya kepada campur tangan alien.
Selain itu, bukti-bukti yang diajukan sering kali berasal dari interpretasi bebas terhadap ikonografi atau struktur arsitektural, tanpa mempertimbangkan konteks budaya dan sosial tempat artefak itu muncul. Dalam beberapa kasus, von Däniken juga dituduh melakukan fabrikasi atau menyelewengkan fakta sejarah. Kendati demikian, ketertarikan publik terhadap teorinya tetap tinggi, bahkan setelah lebih dari lima dekade.
IV. UFO, NASA, dan Realitas yang Tak Terjangkau
Ironisnya, pada saat penelitian ilmiah dan eksplorasi luar angkasa semakin maju, bukti keberadaan makhluk luar bumi justru semakin nihil. NASA secara resmi menyatakan bahwa tidak ada bukti konklusif yang menunjukkan keberadaan teknologi non-manusia, meskipun mereka membuka kemungkinan tentang “kehidupan cerdas” di luar bumi berdasarkan luasnya alam semesta dan probabilitas ilmiah. Namun, laporan-laporan aneh dari pilot Angkatan Laut AS—yang diformalkan dalam laporan UAP oleh Pentagon—menunjukkan bahwa ada fenomena yang belum dapat dijelaskan oleh sains konvensional.
Dengan demikian, perdebatan soal UFO kini memasuki ranah antara epistemologi dan ontologi: apakah kita tidak tahu karena data yang kurang, atau memang ada batasan pada cara kita memahami dan mengklasifikasikan realitas? Di sinilah ide-ide von Däniken, meski penuh kontroversi, tetap relevan sebagai pemantik diskusi tentang batas antara sains, mitos, dan kemungkinan.
V. Penutup: Mengapa Kita Tetap Terpikat?
Mengapa ide tentang kunjungan alien kuno tetap hidup di tengah era modern? Jawabannya terletak pada gabungan antara rasa ingin tahu manusia, keterbatasan pengetahuan historis, dan keinginan untuk memahami masa lalu dengan narasi besar. Chariots of the Gods? bukan hanya buku tentang alien, tetapi tentang kegelisahan manusia dalam mencari asal-usul dan tempatnya di semesta.
Erich von Däniken, dengan segala kelemahannya, berhasil menciptakan jembatan antara mitologi kuno dan imajinasi futuristik. Ia menyuguhkan cara berpikir alternatif terhadap sejarah, meski bukan tanpa risiko epistemik. Hari ini, ketika kita menyaksikan manusia mendarat di bulan, menjelajahi Mars, dan membangun teleskop seperti James Webb untuk mengintip ke ujung kosmos, gagasan tentang “dewa dari langit” berubah wajah—dari piring terbang misterius menjadi simbol harapan akan kehidupan yang lebih luas dari sekadar bumi ini.
Daftar Referensi
- von Däniken, Erich. Chariots of the Gods? Unsolved Mysteries of the Past. New York: Putnam, 1968.
- Feder, Kenneth L. Frauds, Myths, and Mysteries: Science and Pseudoscience in Archaeology. 10th ed. Oxford University Press, 2020.
- Dunning, Brian. “Ancient Aliens Debunked.” Skeptoid Podcast, Episode 408, 2014. https://skeptoid.com/episodes/4086
- U.S. Department of Defense. Preliminary Assessment: Unidentified Aerial Phenomena. Office of the Director of National Intelligence (ODNI), June 25, 2021.
https://www.dni.gov/files/ODNI/documents/assessments/Prelimary-Assessment-UAP-20210625.pdf - NASA. UAP Independent Study Team Final Report, September 2023.
https://science.nasa.gov/uap - Lewis-Williams, David, and David Pearce. Inside the Neolithic Mind: Consciousness, Cosmos and the Realm of the Gods. Thames & Hudson, 2005.
- Shermer, Michael. “The Believing Brain: From Ghosts and Gods to Politics and Conspiracies.” Scientific American, 2011.
- Clarke, David. How UFOs Conquered the World: The History of a Modern Myth. Aurum Press, 2015.
- Sagan, Carl. The Demon-Haunted World: Science as a Candle in the Dark. Random House, 1995.
- Ancient Aliens. History Channel, TV Series, 2009–present.
- Edis, Taner. “Cloning the Ancients: Erich von Däniken and Pseudoarchaeology.” Skeptical Inquirer, Vol. 24, No. 4, 2000.
Jakarta 29 Maret 2025
Chappy Hakim – Pusat Studi Air Power Indonesia